Diphtheria di Jawa Timur

Ismoedijanto Ismoedijanto

Abstract


Imunisasi primer bermanfaat untuk membuat bayi kebal terhadap
penyakit menular pada masa-masa permulaan kehidupan.
Setelah cakupan imunisasi dasar telah mencapai 80%, perlu
imunisasi ulangan agar anak tetap terjaga kekebalannnya. Adanya
Kejadian Luar Biasa (KLB) diphtheria di NIS (New Independent
States, bekas negara bagian Rusia) dan juga di daerah padat
pemukiman di Jawa, menunjukkan adanya masalah kekebalan
pada anak dan dewasa. Kelompok anak tanpa kekebalan atau
dengan kekebalan rendah terdiri dari kelompok yang sejak bayi
tidak mendapat imunisasi sama sekali atau tidak lengkap dan
kelompok yang kekebalannya menurun setelah beberapa waktu.
Dengan cakupan imunisasi yang tinggi, kelompok ini lolos menjadi
kelompok usia tua tanpa terpapar dengan kuman, tidak menderita
penyakit diphtheri subklinis tetapi tetap rentan terhadap
diphtheria. Kasus di Jawa Timur mulai muncul pada tahun 2005,
dengan adanya KLB di Bangkalan. Dengan surveilans yang aktif –
intensif didapatkan adanya kenaikan jumlah kasus per tahun yang
makin meningkat cepat dan pada tahun 2012 telah mencapai
956 kasus. Kenaikan kasus menunjukkan adanya ”sesuatu” pada
pelayanan kesehatan terutama program imunisasi kita. Selain
suntikan primer untuk menimbulkan kelompok serokonversi,
toksoid difteri dan tetanus perlu diulangi beberapa kali agar anak
tetap kebal. Booster ini juga diharapkan akan menutup kekebalan
kelompok anak yang tidak kebal akibat tertinggal pada putaran
imunisasi primer. Sangat penting menjaga agar cakupan DTP tinggi
dan merata, tanpa adanya kantong non kebal di setiap kabupaten


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.