Seorang Anak Perempuan 1 Bulan Dengan Apert Syndrom (Acrocephalosyndactyly Syndrome Type 1)
DOI:
https://doi.org/10.36408/mhjcm.v9i1.707Keywords:
Acrocephalosyndactyly, apert syndromeAbstract
Latar Belakang Sindrom apert merupakan salah satu jenis acrocephalosyndactyly yang paling dikenal dan disebabkan oleh mutasi gen fibroblast growth factor receptors2 (FGFR2) Acrocephalosyndactyly didefinisikan sebagai sindrom kongenital ditandai dengan penutupan yang terlalu dini dari sutura sutura tengkorak (craniosynostosis) Hal ini menghasilkan kepala dan wajah yang berbentuk tidak normal, serta fusi jari tangan dan kaki (sindactyly) 1. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui penegakhan diagnosis sindrom apert Laporan kasus Pasien datang ke poli anak RS Kariadi Semarang tanggal 15 Oktober 2018 yang merupakan rujukan dari RS Keluarga Sehat Pati, dengan assesment suspek sindrom tertentu DD/ Craniosinostosis syndrom, Baller gerold syndrom. Orangtua pasien mengeluhkan bahwa saat bernafas anak berbunyi grok grok. Kesan dari pemeriksaan radiologi skeletal survey adalah Craniosynostosis yang membentuk gambaran Harlequin Eye, Syndactyly manus kiri, Polyndactyly pedis kiri, yang mana dari keseluruhan tanda klinis tersebut mendukung gambaran Apert Syndrome. Sedangkan kesan dari pemeriksaan MSCT kepala tanpa kontras adalah Sutura coronaria kanan kiri tampak sudah menutup, microcephali, brachicephalic, tak tampak gambaran hidrocephalus, tak tampak kalsifikasi patologis yang mencurigakan suatu infeksi kongenital, tak tampak tanda tanda peningkatan tekanan intracranial Pembahasan Apert syndrome (acrocephalosyndactyly) adalah kelainan perkembangan yang jarang terjadi, ditandai oleh craniosynostosis, hipoplasia midface, syndactili simetris tangan dan kaki. Karakteristik prodromal untuk penampilan wajah-cranio yang khas adalah craniosynostosis awal jahitan koronal, dasar kranial dan agenesis dari jahitan sagital. Apert Syndrome adalah sindrom craniosynostosis yang paling dikenal luas Apert syndrome merupakan acrocephalosyndactyly tipe I adalah malformasi kongenital yang langka dengan dikarakteristikan oleh kraniosinostosis, hipoplasia mid-face, syndactyly pada tangan dan kaki. Pada pasien ini tampak synostosis sutura coronaria kanan kiri yang membentuk gambaran harlequin eye. Syndactyly tangan dan kaki, dengan syndactyly pada tangan yaitu tipe 2 atau biasa disebut mitten hand yaitu tampak fusi jari ke 2- 4 tanpa keikutsertaan ibu jari. Dengan penampilan klinis pada mid face pasien menunjukan wajah dismorfik, flat facies, mata proptosis, hidung low nasal bridge, dan mulut palatum letak tinggi Kesimpulan Apert Syndrom merupakan salah satu tipe Acrocephalosyndactyly yaitu kelainan kongenital akibat mutasi heterozigot pada gen FGFR2 dengan sifat dominant autosomal, yang ditandai dengan craniosinostosis, hipoplasia midface, dan syndactyly pada tangan dan kaki. Pemeriksaan radiologi memiliki peranan penting dalam mendiagnosa kelainan ini
Downloads
References
Kodaka, T., Kanamori, Y., Sugiyama, M., & Hashizume, K. (2004). A case of acrocephalosyndactyly with low imperforate anus. Journal of Pediatric Surgery, 39(1), E32–E34. doi:10.1016/j.jpedsurg.2003.09.037
Kiran M. Sargar, MD., Achint K. Singh, MD., Simon C. Kao, MD. (2017). Imaging of Skeletal Disorders Caused by Fibroblast Growth Factor Receptor Gene Mutations. RadioGraphics; 37:1813–1830
Brambila APS., Moragrega PR., Rodríguez IPD., Gutiérrez JFC. 2017. Acrocephalosyndactyly Syndrome: Challenging Diagnosis. Journal of Case Reports; 7(2):204-207
Dalal Madhura., Soni Naresh C. 2010. Apert’s Syndrome : Arare Case Report. Journal of Indian Academy of Oral Medicine and Radiology; 22(4):232-235
Paritosh C Khanna., Mahesh M Thapa., Ramesh S Iyer., Shashank S Prasad. 2011. Pictorial essay: The many faces of craniosynostosis. Indian Journal of Radiology and Imaging; Vol 21(Issue 1)
S. Saritha., Sumangala., G. Supriya., M. Praveen Kumar. 2013. Apert syndrome (Acrocephalosyndactyly): a case report. International Journal of Research in Medical Sciences. Feb;1(1):36-40
John Meara, MD, DMD. Apert Syndrome : A guide to diagnosis and treatment.
Hyun Jeong Kim, M.D., Ph.D., Hong Gee Roh, M.D., Ph.D., Il Woo Lee, M.D., Ph.D. 2016. Craniosynostosis : Updates in Radiologic Diagnosis. J Korean Neurosurg Soc 59 (3) : 219-226
Annick Vogels and Jean-Pierre Fryns. 2006. Pfeiffer syndrome. Orphanet Journal of Rare Diseases; 1:19
Additional Files
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Copyrights Notice
Copyrights:
Researchers publishing manuscrips at Medica Hospitalis: Journal of Clinical Medicine agree with regulations as follow:
Copyrights of each article belong to researchers, and it is likewise the patent rights
Researchers admit that Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine has the right of first publication
Researchers may submit manuscripts separately, manage non exclusive distribution of published manuscripts into other versions (such as: being sent to researchers’ institutional repository, publication in the books, etc), admitting that manuscripts have been firstly published at Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine
License:
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine is disseminated based on provisions of Creative Common Attribution-Share Alike 4.0 Internasional It allows individuals to duplicate and disseminate manuscripts in any formats, to alter, compose and make derivatives of manuscripts for any purpose. You are not allowed to use manuscripts for commercial purposes. You should properly acknowledge, reference links, and state that alterations have been made. You can do so in proper ways, but it does not hint that the licensors support you or your usage.





















