• Med Hosp; Agustus 2020, Edisi Khusus Covid-19
    Vol 7 No 1A (2020)

    Selamat bergabung kembali dengan Jurnal Kedokteran Medica Hospitalia. Kali ini dalam edisi khusus berkaitan dengan pandemi Covid-19, dengan materi yang seluruhnya terkait dengan Covid-19.

    Pandemi ini mengubah banyak hal, termasuk kemungkinan kebersamaan dan interaksi antar manusia bila dibandingkan kondisi sebelum Februari 2020. Pada satu sisi, terdapat kekhawatiran tentang penyebaran virus yang begitu cepat, pada sisi yang lain memacu sifat dasar manusia untuk bertahan dan bahu membahu untuk menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Fenomena yang sangat bermakna dalam perubahan global di seluruh dunia yang mengharuskan setiap manusia mengikuti pola dan kebiasaan yang baru.

    Pada edisi ini, terdapat artikel-artikel yang inovatif, meskipun dalam kondisi baru yang serba terbatas, namun demikian tidak menyurutkan semangat penelitian dan jiwa menulis. Sebagai insan akademisi sekaligus sebagai praktisi klinik, keterbatasan berupa ancaman dalam kesehatan dan berkurangnya jumlah pasien bukan suatu yang dapat menumpulkan kemampuan berkarya. Penelitian justru semakin banyak dan berkualitas, baik yang berupa laporan kasus, telaah artikel maupun peneltian asli. Semuanya ditujukan untuk membangun kejayaan umat manusia melalui ilmu pengetahuan.

    Pembaharuan dalam proses pengelolaan artikel  dalam jurnal ini juga mengalami perbaikan. Hal ini diharapkan lebih memacu proses pembelajaran, pendidikan, dan jejaring antar peneliti, sekaligus memperluas kesempatan untuk mendukung publikasi ilmiah.

    Pada kesempatan ini pula, perasaan duka yang mendalam juga disampaikan kepada setiap keluarga yang mengalami kehilangan orang-orang yang dikasihi akibat pandemi ini. Demikian pula, perasaan bangga ditujukan kepada setiap orang yang sudah dan selalu setia menjadi pegawal terdepan dalam perjuangan melawan kondisi global ini.

    Tetaplah berkarya.

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2020
    Vol 7 No 1 (2020)

    Editorial

    Dewasa ini, hampir mayoritas aktivitas di belahan dunia manapun berkutat dengan pandemi Covid-19. Sebuah fenomena yang mencengangkan yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan, baik ekonomi, kependudukan, dan khususnya dunia kesehatan. Gebrakan makhluk tak kasat mata ini segera mendunia dengan segala macam kontroversinya, meski diakui adanya perbaikan kondisi bumi akibat pembatasan aktivitas penghuninya.

    Teori-teori mulai bermunculan, penelitian pun banyak dilakukan untuk mengetahui perangai virus tersebut. Fenomena ini sangat kental dalam bidang kedokteran, menggunakan teknologi yang ada, yang bisa jadi jarang dilakukan pada waktu sebelum ini. Contoh paling sederhana adalah penggunaan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), makin membuka mata bahwa pemanfaatan teknologi biologi molekuler akan semakin berkembang.

    Bagaimana dengan tugas kita dalam mengembangkan penelitian di negeri ini? Pendapat bahwa penelitian harus menggunakan teknologi terkini dan canggih, merupakan salah satu penghalang minat dan potensi seorang peneliti. Kondisi apapun dapat digunakan sebagai modal awal ide melakukan penelitian, selanjutnya diramu dalam metode penelitian yang benar dan memadai, akan menghasilkan data yang bermanfaat untuk menyusun sebuah simpulan. Kembali dalam situasi saat pandemi ini, akan ada banyak data yang bisa didapat meski tidak menggunakan peralatan yang mahal.

    Namun demikian, apapun bentuk dan bagusnya sebuah penelitian, tidak akan bermanfaat bila tidak dipublikasikan. Dengan kata lain, pandemi Covid-19 ini justru harus memacu semangat dalam berkarya. Bukankan salah satu tugas kita adalah memberikan sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan?

    Tetap bersemangat.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2019
    Vol 6 No 2 (2019)

    Teknologi ilmu kesehatan dan kedokteran berkembang dengan sangat pesat. Berawal dari bacaan text book menjadi teknologi aplikasi yang bermanfaat dalam pelayanan terhadap pasien. Permasalahan yang dihadapi saat ini tentunya berkaitan dengan banyak hal, salah satunya adalah energi finansial. Bagaimanapun, perkembangan tersebut nenuntut bahan bakar yang optimal bila belum bisa disebut maksimal.

    Berkaitan dengan sistem pembiayaan kesehatan di Indonesia saat ini, sistem Jaminan Kesehatan Nasional, sedikit banyak membawa pengaruh dalam jenis pelayanan kesehatan pada level tertentu. Namun demikian, perkembangan ilmu tidak akan dapat dibendung. Kreatifitas tenaga kesehatan justru harus meningkat dalam menyerap ilmu bahkan dalam mengembangkan teknologi. Terbukti dengan banyaknya artikel ilmiah yang disusun dan diterbitkan.

    Medika Hospitalia: Journal of Clinical Medicine, saat ini menantikan hasil penilaian akreditasi jurnal ilmiah, berdasar kriteria Dikti, telah menerima berbagai macam artikel dari berbagai macam disiplin ilmu, Banyak artikel yang akan sangat bermanfaat bila dapat dipublikasikan dengan baik.

    Lebih jauh lagi, perkembangan ilmu dan teknologi yang saat ini ada di luar negeri jelas-jelas juga dapat diterapkan di dalam negeri ini berdasar hasil penelitian yang disampaikan ke meja redaksi jurnal ini. Hal ini membuktikan bahwa dalam segala keterbatasan, Bangsa Indonesia tetap memiliki inovasi, kreasi, improvisasi, bahkan prestasi yang harus dibanggakan.

    Mari menulis.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2019
    Vol 6 No 1 (2019)

    Hingar bingar pilpres 2019 masih terasa, namun demikian semangat menulis dan melakukan penelitian tetap membara. Sejalan dengan semangat itu, Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine juga berbenah menuju sebuah jurnal terakreditasi, baik dalam lingkup manajerial maupun materi didalamnya.

    Jurnal ini tetap memiliki komitmen untuk manampung, melakukan telaah, dan menerbitkan hasil penelitian yang berkualitas. Pada gilirannya nanti, menjadi jurnal yang setara dan memiliki daya ungkit dalam meningkatkan minat dan kemampuan melakukan penelitian klinis.

    Penelitian di lingkungan Rumah sakit merupakan hal yang selayaknya lebih berkembang. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran tidak dapat lagi dibendung, sehingga masyarakat kedokteran harus mampu mengimbangi dan ikut mengembangkannya dalam aktivitas pelayanan kedokteran sehari-hari.

    Dalam edisi ini, topik-topik yang bervariasi dan memenuhi kaidah-kaidah penelitian diharapkan mampu membuka lebih luas wawasan keilmuan, serta mendorong minat melakukan penelitian. Laporan kasus merupakan salah satu bentuk tulisan ilmiah yang dapat dipakai sebagai salah satu parameter kemajuan teknologi kedokteran, khususnya dengan penekanan dalam hal diagnostik maupun penatalaksanaan sebuah kasus. Kembali lagi pada hakekat sebuah penelitian, akan lebih bermanfaat bila dipublikasikan.

    Mari meneliti.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2018
    Vol 5 No 2 (2018)

    Berbeda dengan edisi terdahulu yang lebih banyak menggunakan fasilitas pemeriksaan penunjang dalam menyusun sebuah penelitian, edisi saat ini lebih banyak memunculkan penelitian yang bersifat referensi klinis. Dengan metoda penelitian yang tepat. Sebuah penelitian dapat dilakukan dengan biaya yang tidak mahal. Kunci utamanya adalah validitas data. Hal ini menunjukkan adanya rentang variasi sumber data yang sangat besar dalam improvisasi menyusun sebuah penelitian.

    Penelitian epidemiologi terutama epidemiologi sosial dapat menghasilkan suatu simpulan yang dapat menyumbangkan manfaat dalam pengembangan kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian semacam ini dapat dilakukan di dalam lingkungan Rumah Sakit ataupun di luar Rumah Sakit. Alhasil, luaran penelitian juga menjadi semakin kaya.

    Edisi kali ini mulai menampilkan peningkatan penelitian bersifat laporan kasus. Hal ini merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan, mengingat begitu banyak kasus         di lingkungan Rumah Sakit ataupun di tempat lain, yang dapat dikemas dan disampaikan, sehingga dapat menjadi acuan dalam hal menegakkan diagnosis ataupun tata laksananya.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2018
    Vol 5 No 1 (2018)

    RSUP dr.Kariadi Semarang sebagai pusat rujukan utama di Jawa Tengah, memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi kesehatan. Jumlah besar pasien baik rawat jalan maupun rawat inap merupakan modal yang potensial dalam menyusun penelitian yang mendalam. Terlebih dengan dukungan fasilitas penunjang yang memadai, tidak dipungkiri bahwa banyak penelitian yang dapat dilakukan.

    Kemampuan laboratorium dalam hal ini pemeriksaan darah pasien, menjadi primadona topik penelitian edisi ini. Hal ini menunjukkan adanya kemampuan eksplorasi peneliti berdasarkan kasus-kasus yang ada di lingkungan RSUP dr.Kariadi Semarang meningkat sejalan dengan kemampuan laboratorium yang ada.

    Bermula dari mimpi, suatu saat nanti akan banyak penelitian yang berkaitan dengan ilmu biologi molekuler yang saat ini juga sudah dapat dilaksanakan di lingkungan RSUP dr.Kariadi Semarang. Yang pasti,  ini bukan sekedar sebuah utopia.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2017
    Vol 4 No 3 (2017)

    Dunia pengetahuan dalam kesehatan terus berputar, seperti bola salju yang makin besar. Konsekuensi yang dihadapi adalah perlunya tiap penyedia layanan kesehatan untuk senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Terlebih lagi dengan adanya fasilitas berkomunikasi dan peralatan mutakhir, makin membuat tiap orang harus lebih memacu diri.

    Penelitian klinis dan penunjang yang dilakukan menjadi lebih beragam. Hampir semua fungsi tubuh dapat menjadi objek penelitian, misalnya fungsi hepar, fungsi pendengaran, ataupun reaksi tubuh akibat pemberian zat-zat tertentu. Kondisi kesehatan kerja juga menjadi salah satu sumber penelitian yang bermanfaat dan memperluas wawasan kita.

    Pada edisi ini, terdapat beberapa hasil penelitian yang dapat menjadi pijakan untuk penelitian selanjutnya. Konsisten dengan tujuan penelitian. Sebuah hasil penelitian akan menjadi bermanfaat bila hasilnya dapat disebarluaskan.

    Tetap berkarya

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2017
    Vol 4 No 2 (2017)

    Deteksi dini gangguan pendengaran pada anak sangatlah penting untuk menunjang perkembangan bicara dan bahasa. Dengan proses mendengar seorang anak akan mendapatkan stimulasi suara yang akan sangat cepat dapat mempengaruhi perkembangan otak. Gangguan pendengaran bisa disebabkan berbagai hal antara lain karena infeksi sitomegalovirus yang bisa mengakibatkan gangguan pendengaran kongenital. OAE (otoacoustic emission) dan AABR (automated auditory brainstem response) adalah teknik pemeriksaan baku emas untuk deteksi dini pendengaran pada anak. Gangguan pendengaran khususnya deteksi dini pada anak menjadi topik utama yang diangkat dalam Medica Hospitalia edisi kali ini.

    Penelitian yang dimuat pada Medica Hospitalia volume 4 no 2 tahun 2017 ini sangat beragam. Mulai dari antropometri ibu hamil dan anak, inisiasi menyusui dini, dampak smartphone pada anak sampai pada penyakit pada anak seperti sindroma nefrotik. Tetapi ada pula penelitian pada lansia dan pada bidang radiologi yang tentunya hasil penelitian tersebut sangat berguna apabila diterapkan pada masyarakat. Laporan kasus yang dilaporkan kali ini juga merupakan kelainan langka yaitu glycogen storage disease atau gangguan penyimpanan glukosa, yaitu penyakit langka yang tidak semua praktisi kesehatan berpikir tentang penyakit tersebut.

    Semoga dengan semakin beragamnya artikel yang dimuat pada edisi kali ini, akan menantang para peneliti untuk tetap berkarya dan menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk artikel. Dengan demikian penelitian yang telah dipublikasikan bisa menjadi pijakan bagi rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya dalam mengambil keputusan klinis berbasis bukti.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2016
    Vol 4 No 1 (2016)

    Disorders of Sex Development (DSD) adalah kelainan kongenital yang ditandai dengan adanya organ genitalia eksterna yang tidak jelas antara laki-laki dan perempuan, atau bisa juga seseorang mempunyai gambaran kedua jenis alat kelamin. Kejadian DSD adalah 1: 4500-5000 kelahiran hidup. Penanganan DSD harus dilakukan secara dini untuk meminimalisasi komplikasi medis, psikologi dan sosial. Hiperplasia adrenal kongenital (HAK) adalah salah satu sex disorders yang dapat mengenai laki-laki dan perempuan dan merupakan kelainan genetika yang mempengaruhi kerja kelenjar adrenal. Gejala HAK pada perempuan lebih jelas dan lebih mudah terdeteksi karena merubah karakteristik perempuan menjadi maskulinisasi, oleh karenanya umumnya penderita perempuan mendapatkan penanganan sejak dini sehingga tingkat keparahannya tidak seberat pada penderita laki-laki. DSD menjadi topik utama yang diangkat dalam Medica Hospitalia edisi kali ini.

    Antropometri adalah ukuran dari tubuh berasal dari bahasa Yunani yaitu kata anthropos yang berarti manusia dan metros yang berarti ukuran. Antropometri merupakan pengetahuan mengenai pengukuran dimensi tubuh manusia dan karakteristik khusus lain dari tubuh yang relevan dengan perancangan alat alat atau benda-benda yang digunakan oleh manusia. Antropometri yang paling umum adalah berat badan dan panjang / tinggi badan, pada bayi dan anak adalah lingkar kepala rutin dilakukan. Di luar itu ada beberapa pemeriksaan antropometri yang lebih spesifik seperti rentang tangan dan panjang lutut, ukuran komposisi tubuh seperti lingkar lengan atas dan skinfold.

    Pada edisi kali ini hasil penelitian tentang antropometri cukup banyak ditulis, baik dari ilmu kesehatan anak maupun untuk kepentingan ilmu kedokteran forensik. Beberapa penelitian lain di bidang ilmu THT, gizi dan hipnoterapi yang diteliti bidang keperawatan mendapat tempat juga dalam penerbitan kali ini.

    Semoga dengan semakin beragamnya artikel yang dimuat pada edisi kali ini, akan menantang para peneliti untuk tetap berkarya dan menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk artikel. Dengan demikian penelitian yang telah dipublikasikan bisa menjadi pijakan bagi rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya dalam mengambil keputusan klinis berbasis bukti.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2016
    Vol 3 No 3 (2016)

    Pemberian nutrisi memegang peranan penting di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan gizi setiap pasien. Pemberian nutrisi yang tidak baik dapat mengakibatkan hospital malnutrition / malnutrisi di rumah sakit yang selanjutnya akan mempersulit kesembuhan, menimbulkan komplikasi bahkan sampai kematian. Penelitian yang dilakukan di beberapa negara mendapatkan angka sekitar 45% pasien yang dirawat di RS sudah mengalamai malnutrisi sebelumnya, dan sekitar 70% tidak mengalami perbaikan gizi selama dirawat.

    Kendala yang dihadapi dalam penatalaksanaan pasien malnutrisi di rumah sakit adalah kurangnya kedisiplinan tenaga kesehatan dalam memenuhi protokol (panduan praktik klinik), kurang lengkapnya panduan praktik klinik dan atau kurangnya komunikasi antar pengelola pasien baik dokter penanggung jawab pasien, dokter spesialis / sub spesialis gizi, ahli gizi, perawat maupun ahli farmasi.

    Prevalensi malnutirisi di rumah sakit yang cukup tinggi dengan komplikasi yang bervariasi akan meningkatkan mortalitas, serta biaya tinggi yang harus ditanggung akibat malnutrisi, mengharuskan penanganan yang bersifat multidisiplin dan terintegrasi pada pasien dengan malnutrisi atau berisiko malnutrisi. Untuk itu diperlukan Tim asuhan nutrisi di rumah sakit yang terdiri dari berbagai profesi antara lain dokter, perawat, ahli gizi dan tenaga farmasi. Pembentukan tim terapi nutrisi (gizi) diharapkan dapat mengatasi masalah gizi di rumah sakit dan mendukung terapi medis dokter penanggung jawab pasien.

    Topik utama edisi ini adalah tentang malnutrisi di rumah sakit yang terangkum dalam review article, clinical practices sampai dengan laporan kasus yang membahas tentang asuhan nutrisi. Selain itu masih banyak topik penelitian lain yang dimuat pada edisi kali ini. Sebagian artikel berasal dari Lomba yang diprakarsai oleh jurnal Medica Hospitalia, yang setelah melalui proses penilaian dan review akhirnya terpilih untuk dimuat saat ini.

    Semoga semangat kita untuk selalu mengembangkan penelitian dan mempublikasikannya dalam jurnal ilmiah dapat meningkat dari hari ke hari. Dan semoga hal tersebut akan turut mengharumkan nama Indonesia tercinta.

    Selamat berjuang.

     

    Tim Editor

  • Med Hosp; Nov 2015
    Vol 3 No 2 (2015)

    Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata, dimana pada tanggal 31 Desember 2015 MEA akan diberlakukan. Pada era MEA, “batas-batas” antar negara Asean dibuka, untuk mewujudkan tiga pilar Asean yaitu “economic community” terdiri dari pilar keamanan, pilar sosial-kultural dan pilar ekonomi. Salah satu profesi yang harus siap menghadapi MEA adalah praktisi medis serta keperawatan.

    Terapi medis harus selalu berbasis bukti dan terdokumentasi dengan baik dalam bentuk artikel penelitian yang dipublikasi. RSUP Dr. Kariadi berusaha memenuhi kaidah terapi berbasis bukti dengan selalu mendukung penelitian dan publikasi ilmiah dengan menyelenggarakan pemberian dana hibah penelitian maupun lomba penulisan artikel ilmiah terbaik. Sebagian besar dari artikel penelitian yang dimuat pada edisi ini berasal dari hibah penelitian dan publikasi ilmiah yang diselenggarakan RSUP Dr. Kariadi.

    Tema sentral kali ini adalah tentang pengobatan rasional pada penyakit mata. Infeksi mata secara klinis mempunyai spektrum dari infeksi ringan sampai keadaan gawat darurat dan dari infeksi yang tidak berpengaruh kepada tajam penglihatan sampai yang menyebabkan kebutaan. Pengobatan antibiotika yang rasional pada infeksi mata sangat penting karena obat ini memerlukan sistim imun yang baik untuk membahas kuman penyebab tetapi juga harus tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemberian dan harganya terjangkau.

    Penelitian berkala dan terus menerus untuk memberikan antibiotika yang tepat pada infeksi mata harus dilakukan dan dipublikasikan kepada praktisi kesehatan pengguna.

    Pengobatan infeksi yang memegang peranan penting ialah pemberian antibiotika, yang mempunyai sifat bakterisidal maupun bateriostatik, dimana obat terakhir ini memerlukan sistim imun yang baik untuk membasmi kuman penyebab.Pemilihan obat secara rasional meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemberian dan harganya murah. Salah satu caranya ialah dengan mengikuti prinsip dasar manajemen infeksi yang meliputi pemeriksaan kuman penyebab, tes kepekaan terhadap antibiotika dan pemilihan obat yang sensitif dengan berdasarkan farmakokinetik dan farmakodinamik obat.

    Semoga dengan jiwa peneliti yang dipunyai oleh seluruh praktisi kesehatan, maka kita mampu bersaing secara global sesuai harapan MEA, dapat merawat pasien dengan mutu dan pelayanan kelas dunia serta berbasis bukti.

    Selamat berjuang.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2015
    Vol 3 No 1 (2015)

    Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata, dimana pada tanggal 31 Desember 2015 MEA akan diberlakukan. Pada era MEA, “batas-batas” antar negara Asean dibuka, untuk mewujudkan tiga pilar Asean yaitu “economic community” terdiri dari pilar keamanan, pilar sosial-kultural dan pilar ekonomi. Salah satu profesi yang harus siap menghadapi MEA adalah praktisi medis serta keperawatan.

    Terapi medis harus selalu berbasis bukti dan terdokumentasi dengan baik dalam bentuk artikel penelitian yang dipublikasi. RSUP Dr. Kariadi berusaha memenuhi kaidah terapi berbasis bukti dengan selalu mendukung penelitian dan publikasi ilmiah dengan menyelenggarakan pemberian dana hibah penelitian maupun lomba penulisan artikel ilmiah terbaik. Sebagian besar dari artikel penelitian yang dimuat pada edisi ini berasal dari hibah penelitian dan publikasi ilmiah yang diselenggarakan RSUP Dr. Kariadi.

    Tema sentral kali ini adalah tentang pengobatan rasional pada penyakit mata. Infeksi mata secara klinis mempunyai spektrum dari infeksi ringan sampai keadaan gawat darurat dan dari infeksi yang tidak berpengaruh kepada tajam penglihatan sampai yang menyebabkan kebutaan. Pengobatan antibiotika yang rasional pada infeksi mata sangat penting karena obat ini memerlukan sistim imun yang baik untuk membahas kuman penyebab tetapi juga harus tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemberian dan harganya terjangkau.

    Penelitian berkala dan terus menerus untuk memberikan antibiotika yang tepat pada infeksi mata harus dilakukan dan dipublikasikan kepada praktisi kesehatan pengguna.

    Pengobatan infeksi yang memegang peranan penting ialah pemberian antibiotika, yang mempunyai sifat bakterisidal maupun bateriostatik, dimana obat terakhir ini memerlukan sistim imun yang baik untuk membasmi kuman penyebab.Pemilihan obat secara rasional meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat lama pemberian dan harganya murah. Salah satu caranya ialah dengan mengikuti prinsip dasar manajemen infeksi yang meliputi pemeriksaan kuman penyebab, tes kepekaan terhadap antibiotika dan pemilihan obat yang sensitif dengan berdasarkan farmakokinetik dan farmakodinamik obat.

    Semoga dengan jiwa peneliti yang dipunyai oleh seluruh praktisi kesehatan, maka kita mampu bersaing secara global sesuai harapan MEA, dapat merawat pasien dengan mutu dan pelayanan kelas dunia serta berbasis bukti.

    Selamat berjuang.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2014
    Vol 2 No 3 (2014)

    Akhir-akhir ini kembali dunia kedokteran mengalami dinamika yang hebat. Dengan berita yang keluar dari gedung Mahkamah Konstitusi (MK), tak pelak membuat sebagian praktisi kedokteran merasa gamang. Beberapa upaya mediasi dan sosialisasi serta diskusi seputar keputusan MK dilakukan sebagai bentuk respon sekaligus memperdalam pemahaman terhadap materi Perundang-undangan, serta langkah-langkah antisipasi dalam dunia kedokteran.

    Dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang penyelenggaraannya berpusat pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), mau tidak mau para praktisi kesehatan harus lebih meningkatkan kualitas dan keterampilannya, serta fleksibel menempatkan diri di antara kepentingan masyarakat, perkembangan teknologi, arus globalisasi, dan peraturan hukum. Setiap orang yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan wajib hukumnya untuk mendalami dan menguasai tentang hal-hal tertentu yang berkaitan dengan kompetensinya.

    Salah satu upaya kesehatan yang dilakukan dalam lingkup Rumah Sakit adalah pelayanan kuratif. Pelayanan ini dapat dilakukan dalam tingkat rawat jalan, rawat inap bahkan dalam pelayanan tingkat 3 (pelayanan intensif). Pelayanan intensif di RSUP dr.Kariadi sudah mencakup sampai pelayanan penyakit kritis (critically ill). Hal ini diungkap pada edisi kali ini. Termasuk didalamnya yang berkaitan dengan infeksi dan pengelolaan gizi pasien-pasien yang dirawat di unit perawatan intensif.

    Beberapa tulisan yang menarik yang berasal dari ajang lomba penulisan karya ilmiah dan penelitian dengan dana hibah pada edisi ini, mencerminkan adanya semangat menulis dan meneliti yang semakin meningkat. Hasil tulisan tersebut sangat bermanfaat dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit meskipun secara pasti dapat terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran

    Kembali pada benang merah bahwa hasil penelitian selayaknya dipublikasikan, agar setiap pembaca mempunyai ide untuk menerapkannya atau bahkan mengembangkannya dalam penelitian lain. Selamat menulis.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2014
    Vol 2 No 2 (2014)

    Penyakit-penyakit yang kembali mewabah (emerging diseases) merupakan penyakit yang berkecenderungan meningkat dalam waktu dekat dengan penyebaran pada area geografis yang meluas. Selain emerging diseases, dikenal pula reemerging diseases, yaitu penyakit meningkat kembali setelah sebelumnya mengalami penurunan angka kejadian secara signifikan. Kasus penyebaran flu burung, MERS (Middle East Respiratory Syndrome) merupakan ancaman penyakit mematikan yang harus dicegah penyebarannya di Indonesia. Beberapa saat yang lalu beberapa daerah di Indonesia terserang kembali wabah penyakit difteri dan campak, yang merupakan reemerging disease. Peningkatan kasus infeksi difteri di Jawa Timur, ternyata sudah menyebar ke beberapa daerah lain di Indonesia.

    Pemberian vaksin melalui program imunisasi merupakan salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional dimana prioritas utama adalah upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Selain imunisasi dasar yang merupakan imunisasi wajib bagi bayi kurang dari setahun, imunisasi ulangan harus dilakukan pada anak sekolah dasar, karena sejak anak mulai memasuki usia sekolah dasar terjadi penurunan kekebalan yang diperoleh saat imunisasi ketika bayi. Edisi Medica Hospitalia kali ini mengupas tuntas tentang reemerging disease maupun imunisasi pada keadaan khusus seperti bayi prematur, bayi atau anak dengan penyakit kronik, kekebalan tubuh yang rendah karena penyakit atau pengobatan tertentu, serta anak yang memberikan reaksi berlebihan terhadap vaksinasi.

    Penelitian tentang keganasan tetap menjadi salah satu topik penelitian terkini, selain infeksi yang kali ini terkait dengan donor darah, serta laporan kasus tentang infeksi virus yang menyebabkan tuli kongenital. Bidang keperawatan dan nutrisi menyumbangkan artikel menarik tentang aromaterapi dan penyediaan makanan di rumah sakit.

    Semoga dengan semakin beragamnya artikel yang dimuat pada edisi kali ini, akan menantang para peneliti untuk tetap berkarya dan menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk artikel. Dengan demikian penelitian yang telah dipublikasikan bisa menjadi pijakan bagi rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya dalam mengambil keputusan klinis berbasis bukti.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2013
    Vol 2 No 1 (2013)

    Penyelenggaraan pelayanan kesehatan selalu mengupayakan peningkatan keselamatan pasien. Beberapa kasus yang melibatkan tenaga medis di Indonesia akhir-akhir ini telah merambah pada bidang hukum, yang membuat praktisi kedokteran secara massal dan serentak secara nasional terlibat dalam aksi solidaritas. Namun demikian, sebesar apapun polemik yang berkembang, hendaknya semua kembali berpulang pada sebuah konsitensi dalam ilmu pengetahuan yaitu bahwa kedisiplinan merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam menjalankan dalil-dalil ilmu.

    Disiplin ilmiah merupakan cara pendekatan yang mengikuti ketentuan yang pasti dan konsisten untuk memperoleh pengertian dasar yang menjadi sasaran studi. Pada hakekatnya setiap praktisi kedokteran selayaknya menerapkan hal ini dalam setiap tindakan bahkan dalam sebuah pengambilan keputusan sekalipun. Pencapaian Akreditasi Paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit untuk RSUP Dr. Kariadi, hendaknya menjadi semangat untuk selalu secara pasti dan konsisten menjaga kedisiplinan dalam semua praktik klinis.

    Perkembangan pengetahuan juga terjadi dalam lingkungan di sekitar kita. Teknologi reproduksi berbantu sebagai salah satu teknologi mutakhir saat ini telah dikuasai pula oleh para dokter di Indonesia termasuk di rumah sakit kita ini. Berdasar penelitian epidemiologi yang ada, keberhasilan teknik ini dalam membantu pasangan infertil menunjukkan peningkatan, sehingga tepatlah bila teknologi ini mulai dikembangkan di rumah sakit kita, termasuk pengembangan sarana dan prasarana pendukungnya.

    Masih di lingkup kebidanan dan penyakit kandungan, masalah kehamilan dan persalinan masih memerlukan perhatian yang serius, karena keberhasilan dalam perawatan ante natal akan mengurangi mortalitas dan morbiditas ibu dan bayi. Pada kenyataannya, keberhasilan tersebut memiliki daya ungkit dalam meningkatkan status kesejahteraan secara nasional.

    Dalam edisi kali ini, termuat beberapa teknik sederhana yang mampu menghasilkan efek terapi yang bagus. Platelet-rich plasma dan bantal pasir adalah contoh sederhana yang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam pengelolaan pasien. Selain itu, beberapa modalitas yang terdapat di RSUP dr. Kariadi ini dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemajuan ilmu kedokteran.

    Akhir kata, tak bosan-bosannya kita harus saling mengingatkan bahwa penyebaran dan penyerapan ilmu dapat dimulai dengan menulis laporan dan mempublikasikannya. Akan besar manfaatnya, bila benih ilmu disebar dan niscaya akan berbuah kebaikan. Selamat menulis.

     

    Editor

  • Med Hosp; Mei 2013
    Vol 1 No 3 (2013)

    Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran makin laju percepatannya. Imbasnya, negara Indonesia tercinta ini harus seiring sejalan dengan apa yang terjadi pada negara-negara lain, aktif dalam mengikuti perkembangan melalui media informasi yang tersedia. Termasuk dalam tema sentral kali ini yaitu hematologi onkologi. Cabang ilmu ini berkembang begitu pesatnya sejalan dengan meningkatnya jumlah kasus keganasan baik hematologi maupun non hematologi.

    Pada kenyataannya, kasus keganasan tidak dapat hanya ditinjau berdasarkan diagnosis penyakit primernya saja, namun terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan terapi, komplikasi, termasuk keadaan khusus yang terjadi berkaitan dengan keadaan itu sendiri. Tromboemboli dan pengelolaan gizi, kadang luput dari pengamatan klinis.

    Unsur pendukung pengelolaan sebuah kasus, tidak dapat terpisahkan dan berdiri sendiri. Keadaan pasien sudah semestinya dianggap sebagai suatu yang kompleks dan selayaknya dikelola secara komprehensif. Dukungan berbagai cabang ilmu akan menjadi suatu harmonisasi dalam mewujudkan tata laksana terhadap pasien.

    Dewasa ini, terasa sekali kemajuan teknologi terutama berkaitan dengan mesin atau alat. Negara-negara maju berlomba-lomba menciptakan dan memasarkan alat-alat tersebut. Sudah barang tentu, para dokter tidak mau tertinggal dalam perkembangan tersebut. Masalahnya adalah bahwa negara pencipta alat memiliki kemampuan research and development yang baik, sehingga banyak disiplin ilmu yang terlibat dalam pengembangan teknologi tersebut. Bahkan, ilmu dasar seperti genetika dan biomolekuler, menjadi kekuatan tersendiri.

    Dalam edisi kali ini, banyak topik yang menarik sudah disampaikan ke meja editor. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya banyak hal yang dikuasai oleh tenaga kesehatan kita, yang mengarah untuk mengimbangi perkembangan teknologi. Pada dasarnya, masih banyak hasil penelitian yang baik, yang masih hanya tersimpan dalam almari perpustakaan para dokter, menunggu untuk dipublikasikan. Lebih hebat lagi, masih banyak ide untuk meneliti yang belum terlaksana dan masih terbatas pada angan-angan.

    Sejalan dalam rangka bakti dokter untuk Indonesia, marilah kita tampilkan kualitas kita melalui kegiatan berbagi ilmu dengan mempublikasikan ide dan hasil penelitian kita. Niscaya, hal tersebut akan turut mengharumkan nama Indonesia tercinta.

    Selamat berjuang.

     

    Editor

  • Med Hosp; Nov 2012
    Vol 1 No 2 (2012)

    Dunia kedokteran memulai babak baru dalam hal pengelolaan penyakit. Sekitar satu dekade terakhir, praktisi kedokteran memikirkan kemungkinan pengobatan menggunakan sel autologus terutama dalam kasus-kasus penyakit degeneratif. Hal ini memberikan harapan baru bagi pasien-pasien yang sedang mendapatkan terapi konvensional yang memerlukan biaya yang tinggi serta risiko operasi yang sangat besar. Bahkan, dalam kasus tertentu, pasien yang tidak dilakukan tindakan operasi sebagai terapi utamanya, dapat berharap pada keberhasilan terapi menggunakan sel autologus.

    Saat ini dikenal luas istilah stem cell atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sel punca. Boleh jadi metode terapi menggunakan sel punca merupakan perkembangan terakhir yang didapatkan manusia, meskipun di masa yang akan datang pasti ditemukan metode lain yang lebih efisien. Metode ini telah banyak dikembangkan di negara maju, bahkan beberapa kasus telah dilakukan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Cepat atau lambat, perkembangan terkini harus kita kuasai juga dengan mengikuti dan menerapkan teknologi yang berhasil guna dan berdaya guna dalam pelayanan kesehatan.

    Dalam edisi ini, terpilih tema sentral mengenai penyakit jantung. Setelah sekian lama, para praktisi kedokteran berkutat dengan teori dan patofisiologi penyakit jantung, paradigma sekarang bergeser pada diagnostik dan terapi menggunakan teknologi mutakhir. Terapi sel punca menjadi salah satu metode terapi penyakit jantung. Hal ini sangat menarik sekaligus menantang, karena bila sel punca dapat berhasil guna dalam pengelolaan kasus penyakit jantung, tentunya dapat berdaya guna juga apabila diterapkan pada organ atau kelainan tubuh yang lain.

    Sejalan dengan berkembangnya penelitian di lingkungan rumah sakit, kami memperoleh hal-hal yang menarik yang ditampilkan pada naskah penelitian yang dibuat oleh teman-teman sejawat dokter, residen, perawat, bahkan mahasiswa kedokteran. Kemajuan pesat ditunjukkan dalam hal teknik penulisan karya ilmiah tersebut, baik dalam hal materi, metodologi, maupun penggunaan bahasa dan penyusunan daftar pustaka. Untuk selanjutnya, berlatih menulis dan berkeinginan mempublikasikan hasil penelitian merupakan hal positif yang harus selalu dikedepankan.

    Semoga semangat melakukan penelitian dan publikasi karya tulis, akan membuat jurnal ini semakin berkembang dan mampu menjadi salah satu pijakan dalam membuat kebijakan di rumah sakit serta menjadi memperkuat penelitian berbasis klinis di Indonesia.

     

    Editor

  • MEDICA HOSPITALIA Med Hosp; Mei 2012
    Vol 1 No 1 (2012)

    Penguasaan atas perkembangan teknologi kedokteran terkini, sudah semestinya menjadi tanggung jawab setiap praktisi kedokteran dan kesehatan. Untuk mengikuti proses penguasaan teknologi dan memperkuat keyakinan terhadap suatu prosedur atau regimen, diperlukan tinjauan berbasis bukti (Evidence Based Medicine / EBM) terhadap pelayanan yang telah dilakukan. Tantangan saat ini adalah sistem pencatatan dan pelaporan secara ilmiah yang dapat dianalisis secara sistematis dan benar dalam bentuk penelitian, belum banyak dilakukan oleh semua praktisi klinik. Disamping itu banyak penelitian yang telah dilakukan tidak disebarluaskan dalam bentuk publikasi ilmiah, sehingga tinjauan berbasis bukti terhadap penemuan baru di bidang kesehatan, tidak dapat dijadikan acuan oleh pusat pelayanan kesehatan lainnya.

    Ranah penelitian dan pelayanan di rumah sakit masih terbuka lebar. Sampai saat ini sebagian besar penelitian di Indonesia masih berasal dari bidang kedokteran. Sedangkan publikasi di bidang keperawatan, farmasi, dan penunjang medik seperti radiologi, radioterapi, rehabilitasi medik, gizi klinik, laboratorium dan sterilisasi berbasis rumah sakit masih sangat terbatas. Dengan alasan tersebut RSUP Dr. Kariadi Semarang menerbitkan suatu jurnal klinik ilmiah “Medica Hospitalia” dengan perspektif pelayanan medik rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya, yang menerima naskah penelitian kedokteran dan kesehatan dari seluruh Indonesia, regional bahkan internasional. Medica Hospitalia menerima naskah penelitian dan laporan kasus dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

    Tema sentral pada edisi perdana ini adalah neuroscience. Tema ini dipilih karena kemajuan teknologi kedokteran terkini telah merambah pada terapi organ penting, yang pada masa lalu masih merupakan angan-angan. Terapi pembedahan otak pada kasus epilepsi, bukan hanya telah menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan disamping terapi medikamentosa, namun sekaligus merupakan unggulan pelayanan kedokteran di RSUP Dr Kariadi Semarang. Medical progress / review articles dan clinical practice adalah artikel pilihan editor yang selalu disesuaikan dengan tema sentral edisi penerbitan. Selain itu kami juga memperoleh banyak tulisan ilmiah dengan ide dasar yang brilian. Harapan kami dengan semakin banyak penelitian yang dilakukan dan dipublikasikan, akan mencerminkan tingginya mutu pelayanan dan penelitian berbasis bukti. Berkaitan dengan sangat bergunanya EBM dalam pelayanan kesehatan, setiap perkembangan yang didasarkan pada penelitian dengan validitas yang baik, tentunya dapat dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan kebijakan pelayanan di rumah sakit. Perkembangan tersebut dapat ditemukan dalam bentuk tindakan diagnostik, terapi non bedah, serta prosedur klinik yang dapat memudahkan para klinisi untuk menentukan sikap yang paling tepat dalam pelayanan kepada pasien. Apapun bentuk perkembangan tersebut, akan meningkatkan performa suatu pelayanan khususnya di rumah sakit / pelayanan kesehatan dalam bidang promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif.

    Semoga jurnal semakin berkembang dan dapat dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan kebijakan pelayanan di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya serta memperkuat penelitian berbasis klinik di Indonesia.

     

    Editor